CubesPedia: Melawan Gerakan Radikalisme Di Kampus

CubesPedia

Tribunsantri.com menyajikan berita terhangat yang meliputi isu politik, hukum, peristiwa , dunia islam, pesantren dan lain-lain

Melawan Gerakan Radikalisme Di Kampus

by noreply@blogger.com (Tribunsantri.com) on Sunday 08 September 2019 11:58 AM UTC+00 | Tags: opini
Melawan Gerakan Radikalisme Di Kampus

Tribunsantri.com - Berapa hari belakangan viral sosok Hikma Sanggala (HS), Mahasiswa sebuah kampus Islam Negeri di Sulawesi Tenggara. Ia di Drop Out (DO) oleh Rektor baru kampusnya karena di klaim membawa organisasi, ajaran dan gerakan radikal ke kampus. Ramai-ramai rakyat seantero Indonesia pro dan kontra dengan kasus tersebut. Mereka menilai, rektor baru kampus terlalu diktator dan zalim.

Kasus Hikma Sanggala viral di media sosial. Ia menduduki trending 3 kali dalam kurun waktu beberapa hari saja. Siapa Hikma Sanggala dan apa organisasinya sehingga ia mendapat 'ganjaran' drop out dari kampusnya? Mari sedikit kita bahas.

Dikutip dari pernyataan sebuah akun twitter bernama @mabrurlbanuna, saya hanya menyederhanakan kembali bahasa pemaparan tersebut.

HS adalah aktivis, kader dan pengurus organisasi kampus underbow Hizbut Tahrir bernama Gema Pembebasan (GP).

Sebagaimana kita tahu, GP sudah marak di kampus-kampus terutama kampus umum negeri. Mereka mendoktrin mahasiswa Islam yang selama ini 'sekuler' menjadi fanatik dengan agama. Saking fanatiknya, mereka bahkan tidak bisa membedakan mana yang wajib dan mana yang sunnah.

Tak usah mengambil contoh yang terlalu sulit, Khilafah misalnya. Dimana-mana kader underbow HTI ini selalu menyuarakan ajakan mendirikan Khilafah. Padahal, sebagaimana kita tahu bahwa Khilafah islamiyah sudah runtuh sejak zaman turki usmani. Rasulullah SAW pun tidak mewajibkan ummatnya untuk mendirikan negara Islam. Sebab Rasulullah SAW sebagaimana kita pahami dalam konteks Al-Qur'an dan Hadis, Ia diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia dan mengenalkannya kepada ajaran Tuhan Yang Maha Esa.

Lihatlah negara yang diklaim sudah khilafah di Timur Tengah sana. Contoh pertama adalah Arab Saudi yang sering mereka bangga-banggakan. Apakah Arab Saudi adalah negara khilafah? Tidak! Arab saudi adalah negara kerajaan. Yang memegang otoritas utama saat ini adalah King Salman. Atau beranjak ke Iraq dan Suriah yang diklaim sudah khilafah, benarkah? Tidak! Rakyatnya justru menderita berat karena ulah kebrutalan ISIS dan konco-konconya yang inginkan Daulah Islamiyah.

GP adalah 'anak' HTI, apa itu HTI?

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM Nomor AHU-30.AH.01.08 Tahun 2017 tentang Pencabutan Status Badan Hukum Hizbut Tahrir Indonesia dinyatakan tetap berlaku. Hal itu menyebabkan HTI secara administrasif sudah dibubarkan oleh pemerintah tertanda 7 mei 2017.

Organisasi yang nyata beberapa 'penggedenya' berafiliasi ke ISIS ini acapkali 'menunggangi' sejumlah demonstrasi, mereka mengkampanyekan tuntutan mendirikan negara Islam atau Khilafah. Sama persis seperti DI/TII yang inginkan negeri Islam, atau organisasi teroris seperti Jamaah Anshorut Daulah, Jamaah Islamiyah, ISIS dan lain sebagainya yang bertujuan sama.

HTI lahir dari sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Jawa Barat. Ia dibawa oleh dua orang pendakwah yang dibiayai dari London. Perlahan-lahan dakwah itu disampaikan, sampai saat ini hampir semua Perguruan Tinggi (terutama Negeri) terselip anak-anak ideologis Hizbut Tahrir.

Bagaimana Menangkal Ideologi Radikal di Kampus?

Brigjend Hamli selaku Direktur Pencegahan BNPT-RI pernah mengatakan bahwa radikalisme seperti HTI ini sudah masuk di area Perguruan Tinggi. Paling banyak ada di Fakultas Kedokteran, Fakultas Farmasi dan Fakultas Teknik. Pihaknya bahkan pernah menyebutkan beberapa contoh kampus yang terapar radikalisme, namun tidak akan saya ulas disini.

Kampus adalah satu-satunya area yang sangat dilirik kaum radikal seperti HTI. Lebih lagi fakultas yang menekankan logika matematik seperti disebutkan Brigjend Hamli. Meski begitu, tidak dapat dipungkiri juga bahwa di fakultas lain organisasi seperti HTI ini ada, meski tak sebanyak di tiga fakultas tersebut.

Belakangan di Universitas Islam, para rektor mulai 'bersih-bersih' kampus dari ideologi radikal menyesatkan seperti HTI. Kampus HS salah satunya. Di UIN Syarif Hidayatullah terutama Fakultas Ushuluddin, saat PBAK kemarin mengusung tema "Moderasi Beragama", beberapa tokoh dari fakultas seperti Gus Ahmad Nur Kholid, Dekan 3 Fakultas Ushuluddin Bapak Mediaa Zainul Bahri turut menyinggung terkait gerakan-gerakan menyimpang dari ajaran agama dan negara. Selain 'bersih-bersih' kampus, baiknya juga rutin mengadakan kegiatan yang mengusung narasi kontra faham radikalisme, agar mahasiswa makin paham bahaya laten bangsa Indonesia saat ini.

Apa yang dilakukan rektor IAIN Kendari sudah tepat. Kampus harus mulai tegas, peka dan memahami gerak-gerik organisasi di lingkupnya, agar kedepan tidak ada lagi kampus yang dicap radikal. HTI bersama konco dan anak-anaknya hanya perlu ditegasi, selama ini mereka hanya cari perhatian kesana kemari mecatut nama Islam. Namun sesungguhnya mereka sendiri tidak faham apa dan bagaimana itu Islam.

Sebagaimana mereka bergabung dengan HTI, tapi tak paham apa dan siapa itu Hizbut Tahrir.

Padahal di negerinya sendiri bahkan di puluhan negara, HT jelas ditolak karena kebrutalan dan keterkaitannya dengan jaringan ekstrimis teroris seperti ISIS. Lalu, kenapa di Indonesia ormas ini dibela mati-matian? Apa karena bawa-bawa nama Islam? Padahal para Ulama di Dunia jelas-jelas menentang gerakannya yang diklaim menyimpang dari ajaran beragama, lha kok di Indonesia malah dibela? Ente waras bung?
Kampus adalah sarana terbaik untuk menekankan dan meningkatkan moderasi dalam keagamaan. Maka mari bebaskan kampus-kampus kita dari ancaman radikalisme yang menyesatkan dan merugikan agama, bangsa dan negara Indonesia!

Sumber : Status Facebook Vinanda Febriani
Tags:
  • opini
You received this email because you set up a subscription at Feedrabbit. This email was sent to you at gemapediaa@gmail.com. Unsubscribe or change your subscription.