CubesPedia: Ansor Riau : Selebaran Tuntutan Pembubaran Banser Disebar Sehari Setelah Gubernur Papua Menolak HTI

CubesPedia

Tribunsantri.com menyajikan berita terhangat yang meliputi isu politik, hukum, peristiwa , dunia islam, pesantren dan lain-lain

Ansor Riau : Selebaran Tuntutan Pembubaran Banser Disebar Sehari Setelah Gubernur Papua Menolak HTI

by noreply@blogger.com (Tribunsantri.com) on Monday 26 August 2019 03:38 AM UTC+00 | Tags: hti nahdlatul-ulama
GP Ansor Riau : Selebaran Tuntutan Pembubaran Banser Disebar Sehari Setelah Gubernur Papua Menolak HTI

Tribunsantri.com - Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor Provinsi Riau menyatakan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) adalah kelompok yang berada dibelakang selebaran berisi tuntutan pembubaran Banser disebar di masyarakat.

Sebab, menurutnya, selebaran tersebut disebar sehari setelah penolakan Gubernur Papua Lukas Enembe terhadap FPI dan HTI.

"Baru sehari setelah Gubernur Papua Lukas Enembe menyuarakan penolakannya atas FPI dan HTI di Papua, sebuah selebaran berisi tuntutan pembubaran Banser disebar di masyarakat. Hebatnya, ditengah pembatasan internet di Papua, tagar #BubarkanBanser menjadi trending topic di twitter. Semakin keliatan culasnya para pengasong khilafah di republik ini" kata dia kepada Gagasan Senin pagi (26/8/2019).

Purwaji merujuk pada laman resmi milik Pemerintah Daerah (Pemda) Papua yakni https://www.papua.go.id/view-detail-berita-4426/papua-tolak-fpi-dan-hti.html

Dimana dalam laman tersebut disebutkan Pemerintah Provinsi Papua menyatakan sikap resmi menolak kehadiran kelompok maupun organisasi kemasyarakatan (Ormas) radikal islam, seperti Forum Pembela Islam (FPI) maupun Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Kelompok maupun organisasi islam tersebut dinilai berpotensi tinggi menimbulkan konflik suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) di Bumi Cenderawasih.

Penolakan ini langsung disampaikan Gubernur Papua Lukas Enembe dalam acara ramah tamah bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di kediaman Pdt. Lipiyus Biniluk, Sentani Kabupaten Jayapura, Sabtu akhir pekan kemarin.

Merujuk pada laman tersebut, dikatakan Purwaji, bahwa Banser sebagai organisasi otonom Nahdlatul Ulama secara kronologis peristiwa kerusuhan di Sorong dan Manokwari sama sekali tidak terkait.

"Bahkan ketika kejadian pengepungan asrama Papua di Malang dan Surabaya yang dianggap sebagai pemicu aksi massa di Papua, Banser sama sekali tidak terlibat. Lha kenapa ujug-ujug Banser yang disalahkan dan diminta dibubarkan" tegas Purwaji.

Purwaji menilai cara-cara tersebut dilakukan oleh kelompok-kelompok yang ia sebut para pengasong khilafah membuat kekacauan. "Meski organisasinya resmi dilarang, aktivisnya masih gentayangan" ujar dia.

Kelompok ini kata Purwaji, melakukan upaya balas dendam kepada Banser, karena organisasi otonom NU ini dulu membuat aksi besar-besaran meminta pembubaran HTI. "Bubar harus dibayar bubar begitu agaknya semangat mereka" tegas Purwaji.

Namun kata Purwaji, aksi di Papua dengan menyebarkan selebaran gelap tuntutan pembubaran Banser itu menunjukkan kepanikan kelompok HTI. "Disamping licik alias culasnya mereka" tegas Purwaji. 

Dikatakan Purwaji adanya seleberan gelap itu, anggota DPD asal Papua, Yorris pun sampai heran dan tidak habis pikir soal tuntutan pembubaran Banser.

Gagasanriau
Tags:
  • hti
  • nahdlatul-ulama
You received this email because you set up a subscription at Feedrabbit. This email was sent to you at gemapediaa@gmail.com. Unsubscribe or change your subscription.